sejarah botani
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
salah satu cara untuk lebih
memahami dan mendalami Botani tumbuhan adalah dengan mempelajari awal
perkembangannya pada masa lampau hingga keadaan mutakhir. Dalam mempelajari dan
memahami ilmu botani diperlukan klasifikasi tumbuhan. Sejarah klasifikasi
tumbuhan adalah salah satu subjek yang perlu dipelajari. Dengan mempelajari
sejarah dapat dipahami dan diketahui siapa-siapa yang berjasa mengembangkannya,
bagaimana ide dan alasan mereka dalam membuat klasifikasi.
Apabila kita mempelajari botani tumbuhan untuk pertama kali tentu
akan terkejut dengan banyaknya sistem klasifikasi. Sistem klasifikasi tumbuhan
ini berkembang menurut jamannya. Sistem-sistem yang ada terus berkembang
mengalami perubahan, perbaikan, atau segera dibuang sama sekali setelah
diperoleh data dan pengetahuan baru yang lebih sempurna. Perkembangan dan
kemajuan ilmu botani akan mempengaruhi corak dan sistem klasifikasi yang akan
dianut orang pada masa-masa tertentu.
B. Tujuan
1. Mengetahui sejarah botani tumbuhan
2. Mengetahui perkembangan botani di dunia Islam
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Botani
pada pertengahan
abad ke XVIII,Theophrastus (370-285) dan dianggap sebagai bapak botani, ia
adalah murid dari ahli filsafat terkenal Aristoteles. Karena satu-satunya
sistem klasifikasi yang dianut adalah sistem klasifikasi buatan yang
dibuat Theophrastus. Pada jamannya,
Theophrastus bersahabat dengan Alexander de Great yang banyak menaklukkan
negara-negara jauh di belahan bumi sebelah timur dan kemudian membawa tumbuhan
yang sebelumnya tidak dikenal.
Tumbuhan kemudian ditulis oleh Theophrastus
untuk pertama kalinya seperti: kapas, lada, kayu manis, pisang dan lain
sebagainya. Bukunya Historia Plantarum secara
garis besar berisi tentang pengklasifikasian dan pembuatan pertelaan 480 jenis
tumbuhan, buku ini dianggap sebagai tanda dimulainya botani ilmiah dan
sekaligus merupakan karya tertulis paling tua. Sumbangan pemikiran Theophrastus
sangat berarti, dia juga menelaah perkecambahan biji dan pertumbuhan semai,
serta menunjukkan bagaimana biji-biji yang bermacam-macam itu berkecambah. Ia
menyatakan bahwa akar merupakan struktur pertama yang muncul dari semua proses
perkecambahan biji. Dia juga mengklasifikasikan daun-daun dan memperhatikan
penataan daun pada batang. Meskipun ia bekerja berabad-abad sebelum penemuan
alat-alat optik dan
Theophrastus
juga mengamati penyebaran tumbuhan dan kaitannya dengan lingkungan, dengan
demikian ia merupakan orang pertama yang mempelajari dan mengembangkan geografi
serta ekologi tumbuhan. Ia memperhatikan bahwa angin, cahaya, naungan dan
berdesakannya tumbuhan mempengaruhi pertumbuhannya. Dapat dikatakan bahwa
Theophrastuslah yang meletakkan dasar secara kokoh untuk ilmu-ilmu lainnya.
Sejak
masa kehidupan Theophrastus sampai abad ke-enam belas sebenarnya tidak terdapat
kemajuan yang berarti dalam klasifikasi tumbuhan. Namun pada masa itu para
herbalis, yakni tabib ahli tentang tumbuhan berkhasiat yang mampu menyembuhkan
penyakit terutama orang-orang Jerman, Inggris, dan Italia, menunjukkan adanya
kegiatan yang meningkat dan meluas.
Mereka
melakukan penelitian terhadap penggunaan tumbuhan secara praktis, terutama
dipelajari tentang khasiatnya sebagai obat. Karya tulis mereka sangat banyak
berisi pertelaan tentang tumbuhan asli yang mereka kenal maupun jenis-jenis
tumbuhan pendatang lainnya. Beberapa ahli berpendapat bahwa botani modern
dimulai dari usaha para herbalis untuk menemukan dan mempelajari tumbuhan
berkhasiat obat.
Di
belahan dunia lainnya selain Eropa-pun berkembang juga pengetahuan tentang
botani khususnya yang berkaitan dengan tumbuhan berkhasiat obat. Dapat dicatat
pengetahuan tentang tanaman obat di China dan India telah cukup maju dan
terdata secara tertulis. Demikian pula di Timur Tengah para ilmuwan seperti Ibnu
Sina telah menulis karya besar Canon
Medicine.
Pada abad
pertengahan dan abad-abad berikutnya kemudian muncul nama-nama ahli sistematika
tumbuhan di Eropa terutama di Jerman, Belanda, Inggris dan Belgia. Albertus
Magnus (1192-11280), telah mengenal perbedaan struktur batang, selain itu juga
telah membedakan tumbuhan dikotil dan monokotil, tumbuhan berpembuluh dan
tidak. Pada jamannya telah digunakan lensa sederhana untuk mengamati tumbuhan
dan secara garis besar konsep Theophrastus dapat diterimanya
. Otto
Brunsfels (1464-1534) merupakan ilmuwan yang pertama kali menggolongkan
perfecti dan imperfecti, penggolongan tumbuhan berdasarkan ada tidaknya bunga
dan yang pertama kali mengemukakan konsep marga (genus). Dia pula yang pertama
kali menghasilkan gambar ilustrasi dari tumbuhan herba sebagian besar dibuat
berdasarkan material dari pekerjaan Theophrastus, Dioscorides dan Plinius. Para
herbalis periode 1500-1580 kebanyakan mempelajari tumbuhan untuk keperluan
praktis misalnya penggunaan untuk keperluan obat atau pertanian. Sangat sedikit
yang memikirkan tentang klasifikasi tumbuhan. Andrea Caecalpino (1516-1603),
dalam bukunya De Plantis (1583)
dikemukakan dasar-dasar klasifikasi 1500 tumbuhan. Pemikirannya lebih maju
dibandingkan dengan konsep asli yang lebih berdasarkan manfaat tumbuhan.
Jean
(Johan) Bauhin (1541-1631) sangat terkenal dengan hasil ilustrasinya yang
bergambar Historia Plantarum
Universalis (1650) dalam 3 jilid yang sangat komprehensif, memuat
sinonim 5000 tumbuhan.
Buku ini
diterbitkan oleh menantunya J.H. Cherler, dan untuk pertama kalinya memuat
pertelaan diagnosis yang bagus dari jenis (spesies). Sebelumnya Gaspard Bauhin
(1560-1624) yang merupakan kakak Cherler menerbitkan buku Pinax Theatri Botanici (1623) berisi
tentang nama dan sinonim 600 jenis mampu bertahan cukup lama. Gaspard Bauhin
juga mengklasifikasikan tumbuhan berdasarkan tekstur dan bentuknya, ia
merupakan orang pertama yang memakai tatanama binomial untuk jenis dan kemudian
dipopulerkan oleh Linnaeus.
B. Sejarah Botani dalam islam
Hingga
kini, kota itu dikenal sebagai penghasil ilmuwan dan pemikir Ketika Revolusi
Pertanian Islam bergulir di era kekhalifahan, para insinyur Muslim berhasil
mencapai kemajuan yang begitu gemilang dalam ilmu tumbuh-tumbuhan alias botani.
Para ahli botani Muslim di zaman keemasan Islam mampu menampilkan keahliannya
dalam agronomi, agroteknik, meteorologi, klimatologi, hidrologi, penguasaan
lahan, serta manajemen usaha pertanian.
Tak cuma itu, para ahli botani dan pertanian Muslim juga sudah menguasai
beragam pengetahuan lainnya, seperti ekologi, pertanian, pedologi, irigasi,
serta pengetahuan penunjang pertanian lainnya. Berkat penguasaan pengetahuan
itulah, Revolusi Hijau yang dikembangkan dunia Islam mencapai puncak
kesuksesan.
Salah
seorang insinyur Muslim yang menjadi otak di balik kesuksesan Revolusi Hijau
itu adalah ad- Dinawari (828-896 M). Toufic Fahd (1996), dalam bukunya bertajuk
Botany and Agriculture menabalkan ad-Dinawari sebagai pendiri botani atau ilmu
tumbuh-tumbuh an di dunia Islam. Sejatinya, dia layak ditahbiskan sebagai Bapak
Botani. Botani merupakan kajian saintifik untuk kehidupan tumbuhan. Sebagai
satu cabang biologi, botani kadang kala dirujuk sebagai sains tumbuhan atau biologi
tumbuhan. Botani merangkumi berbagai disiplin saintifik yang mengkaji struktur,
pertumbuhan, pembiakan, metabolisme, perkembangan, penyakit, ekologi, dan
evolusi tumbuhan. Sang insinyur telah menulis sebuah buku botani yang sangat
menakjubkan pa da abad ke-9 M yang berjudul Kitab al-Nabat (Buku Tumbuh-tumbuhan).
Dalam
kitabnya itu, ad-Dinawari mam pu menjelaskan sekitar 637 jenis tanaman.
‘’Ad-Dinawari pun memba has evolusi tanaman mulai dari kemunculan hingga
kematian,’‘ ungkap Taufic Fahd. Tak hanya itu, sang insinyur juga mengupas fase
pertumbuhan tanaman, produksi bunga, dan buah.
Sejatinya, ad-Dinawari bernama lengkap Abu Hanifah Ahmad ibnu Dawud Dinawari. Insinyur asal Persia itu dikenal
sebagai ilmuwan serbabisa. Selain sebagai perintis botani, ad-Dinawari juga
dikenal menguasai beragam ilmu, seperti astronomi, pertanian, metalurgi,
geografi, matematika, dan sejarah.
Ad-Dinawari
terlahir pada tahun 828 M di Kota Dinawar perbatasan antara wilayah Hamadan dan
Kermanshah kini berada di Iran Barat. Ayahnya bernama Abu Hanifa Ahmad bin
Dawud bin Wanand. Sang ilmuwan Muslim ini sejak kecil sudah menunjukkan
minatnya yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan. Ia mempelajari beragam ilmu,
seperti astronomi, matematika, dan mekanik di Ishafan, Iran.
Selain
itu, ilmu bahasa dan sastra juga telah membetot perhatian ad-Dinawari. Untuk
mempelajari bahasa dan sastra, ad-Dinawari harus hijrah ke dua kota penting di Irak pada zaman
kejayaan Dinasti Abbasiyah, yakni Kufah dan Basrah. Sang ilmuwan Muslim
fenomenal itu meninggal dunia pada 24 Juli 896 M di kota kelahirannya, Dinawar.
Nama ad-Dinawari pun diambil dari kota tempat kelahiran dan kematiannya. Prof
MR Izady dalam karyanya bertajuk The 1.100 Anniversary of Abu-Hanifa Dinawari
menuturkan, saat itu, Kota Dinawar telah menjelma sebagai kota besar di Kurdis
tan Selatan. Dinawar terletak di kawasan yang strategis karena berada di antara
wilayah Timur dan Barat yang dikenal sebagai jalur utama perdagangan
internasional, Jalur Sutera. ‘’Hingga kini, kota itu dikenal sebagai penghasil
ilmuwan dan pemikir, seperti ad-Dina wari,’‘ cetus Prof. Izady.
Menurut
catatan sejarah, Ad-Dinawari adalah keturunan bangsa Kurdi. Ia merupakan
keturun an Wanand. Ad-Dinawari me rupakan generasi kedua yang memeluk agama
Islam. Dari kota itu, terlahir juga seorang ulama dan ahli agama bernama
Muhammad ibnu Abdullah ibnu Mihran Dinawari dan ahli tata bahasa yang bernama
Abu-Ali Ahmad ibnu Jafar ibnu Badh Dinawari. ‘’Mereka juga ada lah generasi
kedua yang memeluk Islam,’‘ papar Prof. Izady. Menurut dia, hingga kini, pendu
duk Kota Dinawar tak pernah melupakan jasa dan kontribusi yang diberikan Abu
Hanifa ad- Dinawari dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Setiap tahun,
masyarakat di kota itu memperingati hari Abu Hanifa Dinawari.
Kontribusi
Sang Ilmuwan Botani Pada abad ke-9 M, ad-Dinawari telah menemukan ilmu
tumbuhan-tumbuhan alias botani. Ia mengupas dan membedah botani lewat karyanya
Kitab al-Nabat (Buku Tumbuh-tumbuhan) yang terdiri atas enam volume. Sayangnya,
beberapa volume telah punah, hanya volume ketiga dan kelima yang tersisa. Meski
begitu, volume keenam dari kitabnya itu telah menjadi bagian rekonstruksi dasar
dalam kutipan dari karya terakhirnya. Dalam kitabnya itu, ad-Dinawari menguraikan
sekitar 637 jenis tanaman. Buku itu ditulis dalam bahasa Arab. Sang ilmuwan
menjelaskan aneka jenis tanaman yang ditemuinya dari huruf sin sampai ya. Tak
hanya itu, dia juga mendiskusikan evolusi tanaman dari tumbuh/hidup sampai
mati, penjelasan tahap tanaman tumbuh, dan memproduksi buah dan bunga. Buku itu
menjadi sumber utama tentang tanaman-tanaman dan penggolongan analisis
(morfologi), morfologi tanah dan tentang ilmu air.
Selain
itu ada beberapa ilmuwan muslim yaitu Al-Ghafiqi ( wafat 1165 M).
”Dialah ahli botani paling cerdas pada masanya,” begitu George Sarton, ahli sejarah Barat menyebut Al-Ghafiqi. Ia mengoleksi beragam jenis tumbuh-tumbuhan yang diperolehnya dari wilayah Spanyol dan Afrika. Al-Ghafiqi membuat catatan yang menggambarkan secara akurat jenis-jenis tumbuhan koleksinya itu. Deskripsi tentang tumbuh-tumbuhan yang dibuat Al-Ghafiqi diakui sebagai karya yang paling membanggakan yang pernah dibuat seorang Muslim. ”Dia memberi nama setiap tanaman dalam tiga bahasa, yaitu Arab, Latin, dan Barbar,” ujar Sarton. Karya fenomenal Al-Ghafiqi yang berjudul Al-Adwiyah al-Mufradah memberikan inspirasi kepada Ibnu Baytar untuk meneliti tumbuh-tumbuhan dengan cara sederhana seperti yang dilakukan Al-Ghafiqi.
”Dialah ahli botani paling cerdas pada masanya,” begitu George Sarton, ahli sejarah Barat menyebut Al-Ghafiqi. Ia mengoleksi beragam jenis tumbuh-tumbuhan yang diperolehnya dari wilayah Spanyol dan Afrika. Al-Ghafiqi membuat catatan yang menggambarkan secara akurat jenis-jenis tumbuhan koleksinya itu. Deskripsi tentang tumbuh-tumbuhan yang dibuat Al-Ghafiqi diakui sebagai karya yang paling membanggakan yang pernah dibuat seorang Muslim. ”Dia memberi nama setiap tanaman dalam tiga bahasa, yaitu Arab, Latin, dan Barbar,” ujar Sarton. Karya fenomenal Al-Ghafiqi yang berjudul Al-Adwiyah al-Mufradah memberikan inspirasi kepada Ibnu Baytar untuk meneliti tumbuh-tumbuhan dengan cara sederhana seperti yang dilakukan Al-Ghafiqi.
* Abu Zakariya Yahya Ibnu Muhammad Ibnu Al-Awwan (Abad 12 M) Abu Zakariya merupakan ahli
Botani yang termasyhur dari Sevilla, Spanyol. Ia begitu terilhami oleh karya
Al-Ghafiqi. Karyanya yang paling populer dalam botani berjudul Al-Filalah
risalat Islam terpenting dalam ilmu perkebunan di abad ke-12 M. Kitab itu
menguraikan hasil penelitiannya terhadap 585 jenis tanaman. Dalam kitab Al-Filalah
juga dikupas gejala-gejala, nama penyakit tanaman serta cara mengatasi penyakit
itu agar tanaman tumbuh dengan sehat.
Observasi
terhadap jenis tanah dan perbedaan jenis pupuk tanaman pun dibahas secara
mendalam oleh Abu Zakariya dalam kitabnya itu.
Abdullah Ibnu Ahmad Ibnu Al-Baitar
(wafat 1248 M)
Al-Baytar merupakan ahli Botani sekaligus ahli obat-obatan terhebat di Spanyol pada abad pertengahan. Ia mengoleksi dan memberi catatan atas 1.400 jenis tanaman obat yang diperolehnya setelah menjelajahi daerah pesisir Mediteranian dari Spanyol ke Suriah. Salah satu karyanya yang paling fenomenal berjudul Al-Mughani-fi al Adwiyah al Mufradah.
Al-Baytar merupakan ahli Botani sekaligus ahli obat-obatan terhebat di Spanyol pada abad pertengahan. Ia mengoleksi dan memberi catatan atas 1.400 jenis tanaman obat yang diperolehnya setelah menjelajahi daerah pesisir Mediteranian dari Spanyol ke Suriah. Salah satu karyanya yang paling fenomenal berjudul Al-Mughani-fi al Adwiyah al Mufradah.
Abul Abbas Al-Nabati Kecintaan
dan ketertarikannya untuk meneliti dan mengoleksi beragam jenis tanaman
mendorongnya untuk menjelajahi Pantai Afrika dari Spanyol hingga Arab. Yang
dicarinya adalah tanaman langka di pantai Lautan Merah.
nama penulisnya siapa ya
BalasHapus